KIPRAH MASYARAKAT DALAM POKMASWAS

Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) merupakan sekelompok masyarakat yang peduli terhadap kelestarian sumber daya perikanan sehingga melakukan pengawasan terhadap perilaku penangkapan ikan dengan alat yang merusak (destructive fishing) di lingkungan perairan yang ada di wilayahnya. Anggota Pokmaswas bersifat sukarela. Pembentukan Pokmaswas diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan Perikanan KEP.58/MEN/2001 Tentang Tata cara pelaksanaan Sistem Pengawasan masyarakat  dalam pengelolaan dan pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Masyarakat merupakan ujung tombak dalam pengawasan karena masyarakat bisa mengawasi secara terus menerus. Mengingat jumlah aparat pemerintah yang terbatas, tidak  mampu menjangkau semua wilayah, di setiap waktu. Dalam upaya pengawasan, Pokmaswas bekerjasama dengan aparat penegak hukum. Pokmaswas tidak diperkenankan bertindak  dan menghakimi pelaku tindak pelanggaran/ pidana sebagaimana  aparat penegak hukum.

Menindaklanjuti permintaan anggota Pokmaswas agar mempunyai identitas dalam upaya pengawasan, maka Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta telah menerbitkan ratusan Kartu Tanda Anggota untuk anggota Pokmaswas di wilayahnya. Selain itu, Kementrian Kelautan dan Perikanan juga menerbitkan Kartu Tanda Anggota Pokmaswas dengan dana APBN, Sehingga pada awal tahun 2020,  mayoritas anggota Pokmaswas di Kulon Progo sudah memiliki Kartu Tanda Pengenal.

Di Kabupaten Kulon Progo, pada awal tahun 2020 tercatat terdapat 22 Pokmaswas yang aktif.  Pokmaswas bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan maupun secara mandiri memasang papan larangan penangkapan ikan dengan alat yang tidak ramah lingkungan. Beberapa Pokmaswas melakukan penebaran benih ikan di lingkungan perairan sekitarnya, seperti misalnya Pokmaswas Kayangan Lestari Pendoworejo, Girimulyo pada bulan Juni 2019, dan masih banyak lagi. Anggota Pokmaswas melakukan pengawasan secara langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan sekitar. Pada Bulan Mei 2019, Pokmaswas Duta Baruna Wates berhasil menggagalkan upaya penyetruman. Pelaku melarikan diri sedangkan alatnya ditinggalkan di area persawahan. Pada Bulan Agustus sampai Desember 2019, Pelestari Alam dan Satwa (PADAS) tercatat sebagai Pokmaswas yang paling aktif melakukan pengawasan destructive fishing. Pokmaswas yang beranggotakan masyarakat di wilayah Kapanewon Lendah  dan Galur ini, telah berkali kali menangkap pelaku penyetruman dan atau menggagalkan tindakan penyetruman di wilayahnya.

Pelaku ditangkap untuk mendapatkan pembinaan, dan membuat surat pernyataan  tidak melakukan tindakan yang merusak kelestarian sumber daya perairan lagi. Alat setrum diserahkan kepada Polsek setempat, sebagai barang bukti.

Semoga upaya pengawasan yang dilakukan PADAS menginspirasi Pokmaswas yang lain untuk semakin aktif melakukan upaya pengawasan.

Mari kita lestarikan sumber daya perairan di wilayah kita masing masing. Kalau bukan kita, siapa lagi?