BUDIDAYA IKAN NILA MENGGUNAKAN SISTEM BIOFLOK

Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo, khususnya Bidang Budidaya Ikan mencoba budidaya Ikan Nila menggunakan sistem bioflok karena penerapan budidaya sistem bioflok belum banyak dilakukan oleh masyarakat. Diharapkan dengan budidaya sistem bioflok penggunaan pakan lebih efisien, produktifitas tinggi, hemat air dan ramah lingkungan. Ikan Nila dipilih untuk dibudidayakan karena ikan ini mempunyai daya toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan (Aliyas et al., 2013)  dan merupakan ikan pemakan fitoplankton, zooplankton dan detritus (Sukamto et all., 2013).

Bioflok sendiri berasal dari kata bios yang artinya “kehidupan” dan flok “gumpalan”. Jadi bioflok adalah kumpulan dari berbagai organisme (bakteri, jamur, algae, protozoa, cacing dll), yang tergabung dalam gumpalan (floc) (Suprapto dan Legian, 2013). Bioflok dapat terbentuk jika ada 4 komponen yaitu sumber karbon, bahan organik dari sisa pakan dan kotoran ikan, bakteri pengurai dan ketersediaan oksigen. Terbentuknya bioflok terjadi melalui pengadukan bahan organik oleh aerasi supaya terlarut dalam kolom air untuk merangsang perkembangan bakteri heterotrof aerobik (kondisi cukup oksigen) menempel pada partikel organik, menguraikan bahan organik (mengambil C-organik), selanjutnya menyerap mineral seperti ammonia, fosfat dan nutrient lain dalam air. Sehingga bakteri yang menguntungkan akan berkembang biak dengan baik. Bakteri-bakteri ini akan membentuk konsorsium dan terjadi pembentukan flok. Hasilnya kualitas air menjadi lebih baik dan bahan organik didaur ulang menjadi flok yang dapat dimakan oleh ikan.

Langkah-langkah yang harus dipersiapkan untuk Budidaya Ikan Nila dengan sistem bioflok adalah sebagai berikut:

  1. Kolam bulat central drain berdiameter 3 dan kedalaman 2 m dibersihkan dengan cara disikat sampai bersih dan diisi air.
  2. Instalasi aerasi di pasang di 2 kolam bulat dengan jumlah batu aerasi masing – masing kolam sebanyak 9 buah. Posisi batu aerasi disesuaikan sehinggan oksigen bisa merata di semua kolom air kolam. Aliran oksigen di setting dengan kecepatan 10 L/menit.
  3. Bahan untuk membuat media bioflok adalah garam krosok 1 kg/m3, kapur dolomit 50 gram/m3, molase 100 ml/m3, probiotik dengan komposisi baketri Baccilus sp. 10 ml/m3 (menggunakan kombinasi sel multi dan bioflokulan). Masing – masing bahan tersebut secara berurutan di larutkan dengan air dan dimasukkan ke dalam kolam.
  4. Kolam didiamkan selama 7-10 hari atau sampai dinding kolam terasa licin jika dipegang.
  5. Kualitas air diukur dan dipertahankan minimal kandungan oksigen terlarut 3 mg/L dan pH 6-8 serta dilakukan pengamatan warna air.
  6. Benih ikan Nila dimasukkan ke dalam kolam pada sore hari (15 Juli 2020) dengan rencana kepadatan 120 ekor/ m3, tetapi karena keterbatasan benih maka di coba dengan kepadatan 90 ekor/ m3.
  7. Ikan diberi makan setelah 2x24 jam dengan dosis 3 % dari berat badan ikan.
  8. Untuk perlakukan air selama pemeliharan ialah sebagai berikut:
    -Dilakukan penambahan molase dan probiotik jika kadar oksigen mendekati 3
      mg/L.
    -Dilakukan penambahan dolomit jika terjadi perubahan pH air menjadi
      cenderung asam (pH 5).
    -Air media bioflok diusahakan berwarna kecoklatan.
    -Volume flok dipertahankan hingga 50 ml/L dan jika flok terlalu padata makan
      pemberian pakan dihentikan.
    -Penambahan air dilakukan bila terjadi penguapan.

Keterangan: budidaya sistem bioflok ini dapat diterapkan baik kolam bulat atau kontak dengan sistem central drain.

Gambar 1. Penimbangan garam

Gambar 1. Penimbangan garam

Gambar 2. Probiotik sel multi

Gambar 3. Pemberian kapur dolomit

Gambar 4. Pemberian molase

Gambar 5. Pemberian probiotik

Gambar 6. Penebaran benih ikan Nila