Mangrove dan Karbon Biru

   Kalau kita berbicara tentang mangrove di Kulon Progo, tentu ingatan kita langsung tertuju ke hutan mangrove Kalurahan  Jangkaran Kapanewon Temon, yang telah terkenal sebagai tempat wisata baru di Kulon Progo. Area tersebut menjadi hit setelah banyak netizen yang mengunggah keindahan pemandangannya ke media sosial.  Pengelola wisata membuat banyak spot foto yang instagramable, memanjakan anak muda zaman now yang hoby selfie.  Kalurahan  Jangkaran terletak di muara sungai Bogowonto, berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Tempat ini potensial ditanami mangrove karena endapan lumpur yang ada di muara sungai maupun anak sungai Bogowonto, dimana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.  Seperti diketahui, lumpur tersebut menjadi habitat tanaman. Meskipun, hanya beberapa jenis tumbuhan yang dapat hidup, karena harus melewati proses adaptasi dan evolusi  dengan salinitas yang tinggi. Seperti Rhizopora, Avicenia, Sonneratia dan lain lain. Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Wanatirta dari dusun pasir Mendhit, didampingi LSM Damar menjadi  kelompok pelestari  mangrove, yang berdiri sejak tahun 2009. Dusun Pasir Kadilangu Pasir Mendhit sesuai dengan Perda DIY No 9 Tahun 2018, tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, ditetapkan sebagai zona kawasan konservasi pesisir dan pulau pulau kecil. Pada area konservasi, dilarang melakukan semua kegiatan yang menggunakan cara dan metode yang merusak dan melakukan alih fungsi serta menebang vegetasi pantai untuk kegiatan yang merusak ekosistem.  Keberadaan  mangrove harus dilindungi, dan dilestarikan  oleh semua pihak. Rehabilitasi habitat dan populasi dilakukan dengan  penanaman kembali tanaman mangrove bekerja sama dengan banyak pihak, baik perguruan tinggi, sekolah, perusahaan dan sebagainya.

   Selain itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2018 juga melaksanakan penebaran benih Kepiting di hutan mangrove, untuk memperkaya keanekaragaman hayati. Mangrove adalah hutan yang tumbuh diatas rawa berair payau, yang terletak digaris pantai dan dipengaruhi pasang surut air laut. Keberadaan mangrove di pesisir pantai sangat penting artinya,sebagai tempat hidup binatang laut untuk berlindung, mencari makan, maupun berkembang biak, mangrove juga melindungi pantai dari abrasi, memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat disekitarnya, dengan mengolah mangrove menjadi produk tertentu, sebagai tempat wisata, dan sebagai area pembelajaran bagi mahasiswa maupun pelajar. Tak kalah pentingnya, hutan mangrove menjadi salah satu penyimpan blue karbon/ Karbon biru .

   Apakah blue karbon itu? Blue karbon atau karbon biru adalah karbon yang diserap dan disimpan di eksosistem pesisir dan laut, termasuk yang tersimpan dalam lahan basah pasang surut, seperti hutan pasang surut, hutan mangrove, semak pasang surut, dan juga padang lamun (seagrass, sejenis tumbuhan/rumput laut). Dinamakan karbon biru karena terbentuk dibawah  air, dan berhubungan dengan perairan. Ekosistem pesisir dan laut menyerap karbon (hasil dari aktivitas manusia) yang ada diudara, kemudian menyimpannya dalam bentuk sedimen selama ribuan tahun. Penyerapan yang dilakukan oleh ekosistem pesisir dinilai 5 kali lebih tinggi daripada hutan yang ada didarat. Indonesia saat ini   memiliki hutan mangrove seluas 22,6 % dari mangrove dunia. Sehingga, apabila terjaga kelestariannya, materi organik terkunci didalam tanah, mangrove bisa menjadi penyerap karbon yang efektif, dan memberi peranan penting dalam mitigasi perubahan iklim dunia.

Oleh karena itu, mari  kita menjaga kelestarian ekosistem mangrove.yuks…

 Disarikan dari berbagai sumber