STOP DESTRUCTIVE FISHING

   Destructive Fishing atau aktifitas penangkapan ikan dengan cara yang merusak lingkungan akan berakibat fatal pada keberlanjutan ekosistem perairan. Anak ikan akan mati, tempat hidup ikan pun akan rusak. Racun ikan yang masih tertinggal di dalam tubuh ikan yang mati terkena racun akan membahayakan makhluk hidup yang mengonsumsinya. Anak ikan yang terkena setrum, bisa jadi masih bisa bertahan hidup, namun tidak bisa tumbuh besar. Oleh karena itu, Tim pengawasan terpadu perairan umum bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY dan Polairud Polda DIY melakukan pengawasan kepada aktifitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat di Sungai Progo, awal September ini.

   Menurut informasi dari lapangan, bahwasanya di bawah Bendungan Brosot, beberapa hari sebelumnya dijumpai banyak  ikan yang mati dan ada rombongan orang yang mencari ikan dengan jaring pada saat tersebut. Pada saat tim melakuakn pemantauan di jumpai serombongan orang dari Purworejo yang mencari ikan dengan jaring, namun tidak dijumpai adanya obat atau racun ikan. Selain itu dijumpai beberapa orang yang menangkap ikan dengan menggunakan pancing. Kemudian dilakukan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di sekitar perairan, bahwasanya dilarang menangkap ikan dengan menggunakan alat yang merusak lingkungan, seperti setrum, bom, obat maupun racun. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan menyebutkan bahwa setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan ikan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia. Apabila diketahui dan didapatkan cukup bukti terdapat oknum masyarakat yang melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan cara merusak, maka dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp. 2 milyar.