PENYU SISIK, SI CANTIK YANG HAMPIR PUNAH

Beberapa hari yang lalu, seekor Penyu Sisik ditemukan terperangkap dalam jaring nelayan yang mencari ikan di pantai selatan jawa. Kemudian nelayan membawa Penyu tersebut kepada Pak Warso, selaku Ketua Pokmaswas Wanatirta, Pasir Mendhit, Jangkaran, Temon, yang selama ini aktif melakukan konservasi penyu dan mangrove. Tidak ditemui luka sedikitpun di tubuh Penyu tersebut. Selanjutnya, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo bersama Pokmaswas dan masyarakat  melepas liarkan Penyu seberat  kira kira 5 kg tersebut di Pantai Congot, Jangkaran, Temon. Pasir di Pantai selatan wilayah Kulon Progo yang mengandung mineral merupakan pantai peneluran Penyu Lekang. Sedangkan Penyu Sisik biasanya bertelur dipulau terpencil berpasir dekat dengan terumbu karang, gelap dan sunyi. Penyu sisik dan hijau banyak dijumpai di Kep. Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan Bangka Belitung dan Sulawesi Selatan. Namun demikian, Penyu merupakan hewan penjelajah. Dia mampu bermigrasi 3000 km selama    58 – 73 hari, sehingga tak jarang terdengar kabar penyu tertangkap jaring nelayan (bycatch). Pada 4 Juni 2020, Nelayan dari TPI Congot juga menemukan Penyu Lekang yang tertangkap didalam jaring yang digunakan untuk mencari ikan. Setelah diteliti tidak dijumpai luka, Penyu tersebut kemudian dilepas liarkan kembali ke laut.

Karakteristik Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) adalah bentuk kepala yang memanjang dengan rahang yang cukup besar dan memiliki mulut yang meruncing menyerupai paruh burung elang, sehingga dinamakan hawksbill turtle. Cangkang penyu, atau karapaks penyu sisik, memiliki susunan latar belakang kuning dengan kombinasi garis-garis terang dan gelap yang tak beraturan yang didominasi oleh warna hitam dan bintik-bintik berwarna cokelat.  Karapaks pada penyu sisik memiliki lima skat tengah dan empat pasang skat lateral, dengan bagian belakang skat yang saling tumpang tindih sedemikian rupa sehingga pinggiran belakang karapaksnya terlihat bergerigi, mirip dengan tepi gergaji atau pisau bistik. Bentuk sisiknya yang tumpang tindih/over lapping (imbricate) seperti sisik ikan maka orang menamainya penyu sisik. Penyu sisik dewasa banyak dijumpai di terumbu karang. Spons terumbu karang adalah sumber makanan utama penyu sisik. Bagi kebanyakan hewan, spons ini beracun karena spikula (duri mirip kaca) yang dikandungnya, namun penyu sisik kebal terhadap hal ini sehingga tidak banyak hewan yang mampu menyaingi penyu sisik memakan spons ini. Paruh penyu sisik yang agak runcing  memungkinkan dia menjangkau makanan yang berada di celah-celah karang tersebut. Dengan adanya penyu sisik memakan spons, maka hal ini memberikan ruang bagi kehidupan laut lainnya di terumbu karang, karena spons mengambil banyak tempat di ekosistem terumbu karang. Hal ini menjadikan penyu sisik sebagai bagian penting dari ekosistem, berkontribusi pada kesehatan terumbu karang dan kehidupan laut yang lebih luas.

Karakter penyu sisik tak seagresif penyu hijau, sehingga kemampuan bertahan diri kurang dibandingkan penyu hijau. Itu faktor alam yang membuat penyu sisik kritis. Selain itu, perburuan yang dilakukan manusia dan pencemaran lingkungan semakin mempercepat penurunan populasi. Karapas Penyu Sisik yang cantik bernilai tinggi,  menjadi target perburuan liar. Saat ini, Penyu Sisik masuk dalam kategori satwa sangat terancam punah (critically endangered). Di Indonesia, semua jenis penyu dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang berarti perdagangan penyu dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya dilarang. Menurut UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,  pelaku perdagangan (penjual dan pembeli) satwa dilindungi seperti penyu, bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan.