STUDI BANDING BIOFLOK NILA

  Bidang Budidaya dan kelompok pembudidaya ikan dari Trunojoyo, Triharjo, Wates dan Mina Taruna, Kranggan, Galur melaksanakan studi banding mengenai ikan Nila menggunakan sistem bioflok di Bendari Farm, Rongkosan, Sindumartani, Ngemplak, Sleman (9 Mei 2021).  Studi banding ini bertujuan untuk menambah pengetahuan cara berbudidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok.

  Kedatangan kami yang berjumlah 13 orang disambut baik oleh bapak Anton Subekti selaku pemilik Bendari Farm. Beliau melakukan kegiatan budidaya ikan sudah sejak 1993 dan baru tertarik untuk budidaya menggunakan sistem bioflok sejak tahun 2020. Hal ini lakukan Pak Anton karena sistem bioflok menggunakan air yang sedikit, manajemen air yang cukup mudah dan lebih ramah lingkungan. Sistem bioflok di kembangan baik menggunakan kolam bulat maupun kolam kotak yang keseluruhan berjumlah 20 kolam. Pak Anton sudah mencoba membudidayakan ikan Nila minimal dengan kepadatan ikan 125 ekor/m2 dan sampai sekarang masih mencoba menambah kepadatan sampai batas maksimal yang dikuasai beliau.

  Sistem bioflok yang di lakukan Pak Anton menggunakan bahan berupa garam 1 kg/m2, kapur dolomit 50 gram/m2, molase 100 ml/m2, dan probiotik Laktobacillus 10 gram/ m2. Untuk kandungan floknya dipertahankan maksimal 20 ml/L, jika melebihi angka tersebut flok bisa diencerkan dengan cara membuang air kolam dan dilakukan penambahan air baru. Untuk pakan yang digunakan harus di bibis terlebih dahulu dan untuk menjaga kandungan flok, ditambahkan air fermentasi sebanyak 10 ml/m2. Jika kondisi kolam tidak ada masalah maka FCR bisa mencapai perbandingan 1:1.

  Semoga dengan studi banding ini para pembudidaya dari Kulon Progo lebih memahami dengan baik cara budidaya ikan menggunakan sistem bioflok dan bisa mengadopsi sistem bioflok yang telah dilakukan oleh Pak Anton serta lebih mampu menangani masalah yang timbul ketika berbudidaya.

Foto 1. Sampling ukuran ikan

Foto 2. Sesi diskusi

Foto 3. Tanya jawab dengan Pak Anton