MONITORING KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN BERSAMA LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN BPTPB DK

Dalam rangka meningkatkan nilai produksi budidaya salah satu kegiatan yang perlu dilakukan yaitu monitoring kesehatan ikan dan lingkungan. Dengan Monitoring keskanling dapat membantu pembudidaya untuk mengetahui kondisi kualitas air serta dapat berkonsultasi secara langsung terkait penyakit ikan dan kesehatan lingkungan.

Dinas kelautan dan perikanan Kabupaten Kalon Progo didampingi Penyuluh Perikanan Lapangan dan tim dari BPTPB Cangkringan pada hari Selasa, 06 Februari 2024 melakukan monitoring di Kecamatan Pengasih. Lokasi yang dikunjungi adalah Pokdakan Mina Berkah yang beralamat di Klegen, Sendangsari. Pokdakan Mina Berkah merupakan pokdakan wanita penerima bantuan hibah Tahun 2023 melalui Dana Keistimewaan dengan komoditas ikan lele dan ikan gurame. Dilakukan pengecekan kualitas air dengan alat WQC (Water Quality Checker) yang dapat mendeteksi ph, Oksigen terlarut, konduktifitas, turbiditas, suhu dan salinitas. Hasil dari uji kualitas air untuk kolam lele rata rata pH antara 7,3-7,5 (optimum 6,5-8), oksigen terlarut 5,4-7,1 mg/l (optimum >3), konduktiftas 0,139-64,9 mS/m (optimum <50), turbiditas 110,8-363,4 NTU (optimum 25-100)  suhu air 27,7-27,8 0C (optimum 28-32), dan salinitas 0,3-0,7 0 /00 (optimum 0-0,3). Hasil dari uji kualitas air untuk kolam gurame rata rata pH antara 7,15-7,52 (optimum 6,5-8), oksigen terlarut 7-7,2 mg/l (optimum >3), konduktiftas 42,8-54,1 mS/m (optimum <50), turbiditas 83,3-243,3 NTU (optimum 25-100)  suhu air 27,2-27,4 0C (optimum 28-32), dan salinitas 0,1-0,2 0 /00 (optimum 0-0,3). Berdasarkan hasil uji air tersebut parameter ph, DO, konduktifitas, dan salinitas masih pada kisaran optimum untuk perikanan budidaya. Untuk turbiditas yang merupakan kekeruhan air menunjukan nilai diatas optimum, pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan rutin melakukan pergantian air kolam dengan air baru. Menurut penuturan anggota kelompok yaitu ibu Waljinem mengatakan bahwa permasalahan terkait penyakit ikan terjadi pada wal penebaran yaitu perut ikan yang kembung dan beberapa ikan mengambang dipermukaan, namun hal tersebut dapat diatasi oleh kelompok dengan mengurangi jumlah pemberian pakan dan pemberian probiotik secara berkala. Menurut penuturan dari ibu Astuti, SP (Pengendali Hama Penyakit Ikan Ahli Madya) dalam budidaya ikan wajib menjaga lingkungan pemeliharaan, dan melakukan tindakan preventif (pencegahan) yaitu dengan pemberian vitamin, imunostimulan untuk meningkatkan kekebalan atau daya tahan tubuh ikan, pemberian vitamin/imunostimulan tersebut dapat dilakukan secara periodik yaitu 2-3 kali seminggu melalui oral (pakan). Tambahan dari ibu Siti Khoiriyah, S.Pt. selaku Pengelola Kesehatan Ikan DKP KP, perlu adanya kepedulian terhadap ikan budidaya contohnya pada saat pemberian pakan diharapkan tidak hanya sekedar memberikan pakan namun juga melakukan pengamatan apabila terjadi perubahan perilaku ikan, sehingga apabila ada kejadian dapat lebih terkontrol.Biosekurity sarana budidaya juga perlu diperhatikan, apabila ada alat budidaya yang digunakan untuk menangani ikan yang sakit harus dicuci terlebih dahulu agar tidak menular ke kolam yang lain. (Melani C, S.Pi.)