Kunjungan Direktorat Jendral Perikanan Budidaya ke Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Prog

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo menerima kunjungan dari Direktorat Jendral Perikanan Budidaya pada Rabu, 6 Maret 2024. Tujuan kedatangan Direktorat Jendral Perikanan Budidaya yaitu untuk melakukan Surveilans Hama dan Penyakit Ikan di Unit Usaha Pembudidaya Ikan terkait penggunaan obat yang mengandung antibiotik (Survei AMU). Pelaksanaan kegiatan didasarkan pada Inpres No. 4 tahun 2019 sebagai upaya KKP untuk meningkatkan upaya pencegahan dan surveilans resistensi antimikroba di sektor perikanan terkait dengan kedaruratan penggunaan antibiotik.

Surveilans dipimpin langsung oleh Bapak Drs. M. Nurzain, selaku perwakilan dari Direktorat Jendral Perikanan Budidaya serta didampingi oleh Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Bapak Suryadi, S.Kel. Kegiatan ini dilaksanakan di Padukuhan Pereng, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo pada dua kelompok budidaya yaitu Ayom Ayem dan Mina Tanjung.

Gambar 1. Kunjungan Direktorat Jendral Perikanan Budidaya ke Kelompok Budidaya Ikan

Kegiatan diawali dengan wawancara kepada kelompok budidaya Ayom Ayem dan Mina Tanjung. Wawancara pada kelompok Ayom Ayem diwakili oleh Bapak Wahyudi. Beliau menjelaskan bahwa kelompok budidaya ikan ini sudah melakukan kegiatan budidaya ikan selama enam tahun dengan komoditas utama ikan lele. Saat ini terdapat 10.000 ekor lele yang sedang dipelihara. Hasil panen yang diperoleh sekitar 500 kg/kolam dan dijual dengan harga 20.000/kg. Kendala yang dialami oleh kelompok budidaya Bapak Wahyudi yaitu serangan burung. Selain itu, di kolam bulat terserang jamur moncong putih di awal penebaran bibit. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan pengurasan kolam lalu diberi garam dan daun papaya yang telah diblender. Terakhir, kolam diberi gedebog pisang. Pada kasus yang lain, penanganan yang dilakukan yaitu dengan diberi Inrofloxs-25 yang sudah dilarutkan dengan air.

Gambar 2. Wawancara dengan Kelompok Budidaya Ayom Ayem

Wawancara pada kelompok Mina Tanjung diwakili oleh Bapak Nuri Prasetyo. Kelompok Mina Tanjung sudah berjalan kurang lebih tiga tahun. Saat ini memiliki delapan kolam bulat dengan diameter 3 m, namun hanya lima kolam yang berfungsi karena yang tiga bocor. Setiap kolam diisi 2500 ekor ikan lele yang biasanya dipanen setiap tiga bulan sekali. Hasil panen bisa mencapai 270 kg/kolam. Selain itu, Bapak Nuri juga memiliki kolam pribadi yang digunakan untuk pemeliharaan ikan nila. Kendala yang dialami oleh kelompok Mina Tanjung yaitu salah satu kolam terkena infeksi bakteri Aeromonas sp. yang menyebabkan timbulnya merah-merah pada sirip ikan. Penanganan pertama yang dilakukan yaitu pengurasan kolam kemudian diberi obat herbal berupa hasil blender daun mengkudu dan buahnya serta daun sirih merah. Selanjutnya air kolam hanya diisi setengah dan didiamkan dua hari.

Acara dilanjutkan dengan penjelasan mengenai bahaya penggunaan antibiotik untuk kegiatan budidaya ikan oleh Bapak M. Nurzain. Penggunaan antibiotik yang tidak benar dan tidak bijak dapat merusak lingkungan bahkan membahayakan kesehatan manusia. Untuk itu beliau menyarakan agar apabila ikan mengalami infeksi bakteri/penyakit lebih baik diobati dengan obat herbal alami untuk meningkatkan imunitas ikan. Penggunaan antibiotik harus dipastikan ikan dalam kondisi benar-benar sakit. Selain itu, antibiotik yang digunakan juga harus sudah terdaftar di KKP dan penggunaannya sesuai dengan anjuran yang ada di label. Beliau juga menjelaskan tentang maraknya antibiotik palsu di pasaran, untuk itu masyarakat diminnta untuk waspada. Ciri-ciri antibiotik asli yaitu terdapat hologram kecil pada kemasan, hanya tertera tulisan pengobatan, terdapat nomer pendaftaran dari KKP, serta terdapat tulisan timbul “booster” pada kemasan bawah botol. Bapak Nurzain juga berpesan agar kelompok budidaya yang sudah menerima informasi ini untuk membagikan ilmunya ke kelompok budidaya lain guna menyukseskan program ini (Putri Anggitasari H-MBKM UGM).