Keikutsertaan DKP pada Advokasi Perizinan dari BBPOM Yogyakarta

Kamis (7/3/2024) lalu Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo mengikuti kegiatan advokasi yang diselenggarakan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta. Kegiatan ini berjudul “Advokasi Dalam Rangka Perizinan dan Pendampingan UMKM di Bidang Obat dan Makanan” yang diselenggarakan di Hotel Grand Zuri, Yogyakarta dengan tiga narasumber utama berasal dari Paniradya Kaistimewaan DIY, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY serta dari BBPOM Yogyakarta. Adapun peserta pada kegiatan advokasi ini adalah para pelaku usaha di bidang obat dan makanan serta pemangku kepentingan terkait. DKP dalam kesempatan ini diundang sebagai peserta sekaligus berkenaan dengan tupoksinya untuk membina kelompok bidang pengolahan makanan berbasis hasil kelautan dan perikanan.

Narasumber pertama, Bapak Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si, Pati Paniradya Kaistimewaan menyampaikan tentang program yang ada di Dana Keistimewaan (Danais) berkaitan dengan pengembangan obat dan makanan di Yogyakarta. Pengembangan yang dilakukan adalah berbasis kolaborasi antar pemangku kepentingan sehingga didapatkan tujuan bersama demi kemakmuran masyarakat. Salah satu yang dicontohkan dalam paparannya adalah kolaborasi Danais dalam mensupport pengembangan Desa Prima, salah satu upaya pemberdayaan ekonomi produktif berbasis pemberdayaan perempuan yang digawangi oleh DP3AP2. Salah satu cerita keberhasilan dari kolaborasi ini adalah keberadaan Desa Prima Gumregah di Kalurahan Putat Kapanewon Patuk Kabupaten Gunungkidul yang memperoleh bangunan dan sarana pengolahan kue bolu kelapa.

Desa Prima sendiri adalah sebuah program pemberdayaan perempuan yang didampingi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY. “Prima” adalah akronim dari “Perempuan Indonesia Maju Mandiri” sehingga jelas, kegiatan ini berujung pada semangat pemberdayaan untuk kesejahteraan perempuan terutama perempuan yang termarginalkan. Adapun kegiatan pengolahan makanan di Putat adalah salah satu item usaha untuk membuka lapangan usaha kecil sehingga mampu memberdayakan perempuan pada khususnya dan lingkungan di sekitar tempat usaha tersebut. Uraian ini disampaikan narasumber kedua dari DP3AP2, Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan DP3AP2 DIY, Rofiqoh Widiastuti, S.Sos., MPH.

Dalam tataran usaha kecil yang bergerak di sektor makanan inilah BBPOM mengupayakan ketertiban perizinan pelaku usaha. Uraian ini disampaikan oleh Bagus Heri Purnomo, S.Si., Apt., Kepala BBPOM Yogyakarta. Pendampingan ini berawal dari legalitas usaha dan dikuatkan dalam Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) yang menjadi tupoksi dari BBPOM. Pelaku usaha sektor obat dan makanan yang menjadi sasaran pendampingan adalah usaha mikro dan kecil yang ada di DIY. Kegiatan advokasi ini sejalan dengan Inovasi Berpendar (Bersama Pendampingan UMKM Untuk Memperoleh Izin Edar) sebagai program unggulan di BBPOM Yogyakarta.

Ketiga uraian ini tentu sejalan dengan usaha DKP dalam membina pelaku usaha P2HP agar semakin meningkatkan mutu sehingga melakukan prosedur pengolahan produk hasil kelautan dan perikanan yang sesuai standar. Pada kesempatan ini pula disampaikan bahwa di Kulon Progo sendiri sudah terbit pelaku usaha yang mempunyai Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP). SKP adalah sertifikat yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan bagi pelaku usaha P2HP yang sudah melakukan prosedur pengolahan terstandar.

Maju Terus Perikanan Kulon Progo!

Salam KOMPAK: Kompetitif, Profesional, Akuntabel!
GERBANG SEGORO: Siyogo, Sendiko, Mulyo!

Kontributor : Isna Bahtiar, S.Kel., M.Ec.Dev.