PELATIHAN PEMBUATAN GARAM SISTEM TUNNEL

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Kulon progo bekerjasama dengan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Tegal, pada tanggal 8-12 Oktober 2018, menyelenggarakan pelatihan pembuatan garam dengan sistem tunnel untuk masyarakat Kulon Progo. Peserta pelatihan terdiri dari 30 orang, 20 orang dari Desa Bugel Kec. Panjatan dan 10 orang dari Dusun Imorenggo Desa Banaran Kec. Galur, serta didampingi oleh penyuluh perikanan bantu.

Tunnel dalam bahasa Inggris artinya terowongan. Pembuatan garam dengan sistem tunnel adalah membuat bak-bak penguapan yang dilapisi plastik HDPE di bagian bawah, ditutup plastik UV di bagian atas dan di desain seperti terowongan. Pada prinsipnya penguapan air laut dilakukan secara bertingkat dalam petak tertutup dengan ketinggian yang berbeda beda. Air laut yang diambil dari sumur bor di pantai Bugel mempunyai kepekatan 3 Be. Air laut dialirkan dari bak penampungan ke tunnel pertama hingga diperoleh derajat kepekatan tertentu. Secara gravitasi, air akan mengalir ke tunnel kedua, karena letak tunnel kedua berada 10 cm dibawah tunnel pertama. Setelah diuapkan beberapa hari akan diperoleh derajat kepekatan tertentu dan ketinggian tertentu, maka air di tunnel kedua dialirkan ke tunnel ketiga dan seterusnya sampai tunnel keempat. Apabila di tunnel keempat kepekatan sudah menunjukkan angka 20 Be dengan alat pengukur baumemeter/hidrometer, maka air dialirkan ke tunnel terakhir atau bak pengkristalan. Di tunnel terakhir, kepekatan diharapkan sampai angka 25 Be untuk menjadi garam konsumsi.

Sistem tunnel adalah metode terbaru dalam pembuatan garam untuk mensiasati produksi garam pada musim hujan. Menggunakan plastik UV sebagai penutup menyebabkan udara didalam bak sangat panas sehingga mempercepat proses penguapan. Instruktur dari BPPP Tegal, yaitu Bapak Lutfi Jauhari, Bapak Jemisra, dan Bapak Kustanto dengan sabar memandu peserta untuk membuat tunnel dan memberikan keterangan secara rinci tentang proses penguapan yang terjadi, serta berpesan agar peserta telaten mengukur dan mencatat kepekatan dan ketinggian air di setiap siang hari. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan di setiap tunnel sampai terjadi garam di bak pengkristalan.

Peserta pelatihan terlihat antusias mengikuti pelatihan. Apabila pembuatan garam ini berhasil, mereka berencana membuat sendiri sebagai mata pencaharian tambahan mengingat dalam pembuatan garam ini tidak menyita waktu dan tidak menimbulkan limbah.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Kulon Progo, Ir Sudarna, MMA menyatakan terimaksih kepada BPPP Tegal yang telah mengalokasikan anggaran untuk pelatihan pembuatan garam di Kulon Progo. Beliau meyambut baik diadakannya pelatihan pembuatan garam di masyarakat Bugel. Pada zaman nenek moyang, konon masyarakat Bugel terkenal sebagai produsen garam, bahkan penghasilan mereka diatas rata rata, dibuktikan dengan mereka sudah bisa membeli sepeda, sementara masyarakat pada umumnya belum. Harapannya, peserta pelatihan melanjutkan pembuatan garam, sehingga nanti akan bermunculan tunnel tunnel yang lain.

 

Foto: Pembuatan bak penguapan.

 

Foto: Pembuatan tunnel dengan plastik UV

 


Foto: Pembuatan tunnel bertingkat.