Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo melaksanakan study tiru tentang bioflok dan pakan mandiri di Ken Fish Farm dan Budi Fish Farm pada hari senin tanggal 3 November 2025. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Dinas, Sekretaris Dinas, Bidang Perikanan Budidaya dan Penyuluh Perikanan. Adapaun tujuan dari kegiatan ini ialah meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan kapasitas Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, khususnya terkait budidaya ikan secara bioflok dan pakan mandiri.
Pemilik budidaya ikan nila secara bioflok yaitu mas Indra (Ken Fish Farm, Dhuri, Tirtomartani, Sleman) menyambut hangat kedatangan rombongan. Beliau menjelaskan bagaimana cara berbudidaya ikan nila secara bioflok yang telah dilakukan, tantangan yang dihadapi dan keuntungan ketika berbudidaya ikan secara bioflok. Inti dari budidaya secara bioflok ialah kestabilan flok di dalam air. Kondisi flok di buat tidak lebih dari 50 ml/L. Sistem aerasi yang stabil dan monitoring parameter air (DO, pH, amonia) juga menjadi kunci kestabilan flok. Budidaya ikan system bioflok mampu meningkatkan efisiensi pakan karena bioflok menyediakan sumber makanan mikroorganisme; pengurangan frekuensi penggantian air; dan kemampuan menaikkan kepadatan ikan per kolam dibanding metode tradisional.
Lokasi terakhir yaitu budi fish farm yang beralamatkan di Jetis Donolayan, Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Disini merupakan pembudidaya ikan baik pembenihan, pembesaran maupun pembuatan pakan mandiri. Setiba disana Pak Budy Setyawan langsung menjelaskan proses pembuatan pakan ikan. Mulai dari memilih bahan yang bagus untuk ikan (tepung ikan, bungkil kedelai, bekatul, tepung jagung, tepung mocaf, mbm, dan minyak sawit/ikan), memilih jenis mesin penepung, mixer dan pencetak pelet serta penanganan pasca pelet di cetak. Setelah itu dilakukan sesi diskusi dan tanya jawab seputar pembuatan pakan ikan serta dilanjut untuk melihat proses pembuatan pelet. Pelet yang dihasilkan akan digunakan untuk campuran pelet pabrikan dan mampu menghasilkan FCR 1: 1,1 dan yang paling jelek 1:1,3.
Study tiru ke Sleman memberi gambaran jelas bahwa budidaya ikan berbasis bioflok dan pakan mandiri bukan sekadar teori — melainkan praktik yang dapat meningkatkan produktivitas dan menekan biaya bila dikelola dengan baik. Semoga Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo mampu mengadopsi dan mengimplementasikan kegiatan selama study tiru untuk meningkatkan produksi perikanan lokal sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat pembudidaya. _Mega Dissa A._
